Tampilkan postingan dengan label 30harimemetikhikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 30harimemetikhikmah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Juni 2019

So Late Adzan

Salah satu hal 'unik' lagi yang ada di desa suami adalah adzan ashar yang 'sengaja' ditelatkan. Katanya sih agar para petani yang sedang di sawah tidak buru-buru menyelesaikan pekerjaannya, ini kata suami. Namun entahlah, menurutku hal ini kok terdengar kurang relevan. Padahal ketika terdengar adzan ashar juga tidak semua petani langsung buru-buru bersih diri agar bisa berjamaah di musholla. Nyatanya mereka juga tetap mengakhirkan sholat ashar menjelang waktu magrib, ini sih yang sering saya temui.

Jika di aplikasi hp adzan ashar seharusnya berbunyi pukul 15.00, maka di desa sini baru ada adzan pukul 16.00-16.30, sekitar waktu itu. Ah, membuat penduduk di sini pun lebih gemar lagi mengulur-ulur waktu sholat yang seharusnya disegerakan.

Jika ini memang adat kebiasaan penduduk di sini, maka menurut saya kebiasaan ini patut diubah menjadi lebih baik. Apalagi hal ini bisa menjadi fatal untuk yang suka mengakhirkan sholat dhuhurnya. Sebenarnya sudah masuk waktu ashar, tapi tetap mengerjakan sholat dhuhur karena belum terdengar adzan ashar. Tak peduli matahari sudah condong ke barat, yang penting belum adzan ashar maka belum masuk waktu ashar.

Ah, saya sendiri kalau di sini sholat sesuai adzan aplikasi saja, meski mungkin ada juga yang mengira saya sholatnya salah waktu. Entahlah, yang penting Allah Maha Tahu.

#30HariMemetikHikmah #TantanganMenulisIPMalang #RumbelMenulisIPMalang
#IbuProfesionalMalang
#HariKe-28

Sabtu, 08 Juni 2019

Selesai dengan Diri

Menjadi seorang ibu itu harus selesai dengan dirinya sendiri. Maka tak heran ketika ada seorang ibu muda yang masih labil seperti saya dulu, saya belum selesai dengan diri.

Namun, menjadi ibu di usia muda belum tentu selalu belum selesai dengan dirinya. Banyak juga ibu-ibu muda yang sudah selesai dengan dirinya. Lalu sebenarnya apa yang dimaksud sudah selesai dengan dirinya?

Begitu banyak permasalahan dalam hidup, banyak kesenangan yang begitu ingin diraih. Mereka yang belum selesai dengan dirinya masih berfokus dalam menyelesaikan masalah sendiri dan memuaskan kesenangan diri, tanpa bisa menjadi pribadi yang bermanfaat untuk orang lain.

Saya sendiri merasa miris ketika melihat ada seorang ibu yang terkesan abai dengan anaknya, dia seperti belum selesai dengan dirinya. Dia masih berfokus pada kesenangan yang ingin dia puaskan. Yah, mungkin bisa juga saya bilang orang yang belum selesai dengan dirinya artinya belum dewasa.

Seorang anak yang terjebak pada tubuh dewasa. Jiwanya masih anak-anak yang ingin bersenang-senang dan bersenang-senang, jiwa tersebut belum selesai dengan kesenangan yang entah barangkali dulu saat masih kecil diberangus oleh banyaknya larangan orang tua.

Ah, semua kembali lagi ke pola asuh orang tua, banyak pribadi yang masa kecilnya kurang bahagia, maka ketika tubuhnya telah mendewasa, jiwanya belum siap untuk menjadi dewasa, dia masih ingin mencari kebahagiaan masa kecil yang tertunda.

Saya pun tercenung ketika melihat seorang anak balita bermain sendiri tanpa pernah ibunya menemani bermain, ibunya masih sibuk dengan dirinya sendiri, menyelesaikan masalah-masalah 'kebahagiaan' yang belum usai dalam dirinya. Lalu bisa jadi 'lingkaran setan' itu akan terjadi lagi, si anak di masa depan akan merasa belum selesai dengan dirinya, karena tidak ada ibu yang benar-benar 'hadir' dalam kehidupan masa kecilnya.

Ah ibu, selesaikan dulu dirimu, karena ada jiwa-jiwa yang membutuhkan kehadiran fisik dan batinmu yang telah 'selesai'.

#30HariMemetikHikmah #TantanganMenulisIPMalang #RumbelMenulisIPMalang
#IbuProfesionalMalang
#HariKe-27

Jumat, 07 Juni 2019

Perceraian

Perceraian, sebuah kata yang sering kali membuat saya shock mendengarnya, apalagi jika melihat kemesraan yang selalu ditunjuk-tunjukkan tiba-tiba menghilang tanpa jejak, begitu saja.

Kita memang tak pernah tahu apa yang terjadi sebenarnya dalam kehidupan rumah tangga seseorang. Bisa jadi apa yang ditampakkan justru sebuah topeng pembenaran atas ketidakberesan kehidupan rumah tangganya. Siapa yang tahu? Hanya untuk menghibur diri bahwa rumah tangga saya baik-baik saja bisa jadi seseorang justru selalu berusaha menampakkan kemesraan terutama di sosmed, sebuah dunia yang penuh kepalsuan.

Kita bisa dengan bebas membentuk sendiri persepsi orang terhadap diri kita, entah itu untuk sebuah kebenaran atau tidak. Yang jelas sosmed itu maya, yang ditampakkan adalah sisi baiknya saja. Jika tidak pernah bertemu lagi di dunia nyata, maka jangan pernah berharap kau akan tau wajah dia sesungguhnya.

Kembali lagi ke perceraian. Saya sering tidak menyangka bahwa perceraian akan menimpa teman atau saudara di usia pernikahan yang masih sangat muda. Siapa yang pernah menyangka bahwa di dunia yang jauh dari dunia 'artis' ternyata juga ada pernikahan yang berlangsung hanya dalam hitungan bulan, atau mungkin hanya bertahan 1-2 tahun saja.

Ah, saya tak pernah menyangka, tapi inilah dunia. Ketidakcocokan itu bisa jadi memang baru terasa setelah beberapa waktu, terlepas dari bagaimanakah proses perkenalannya dulu. Namun perceraian itu nyata adanya, jika pertengkaran sudah tak ada kata damai, atau perdamaian sudah tidak bisa mufakat, mungkin memang lebih baiknya adalah berpisah. Daripada ada jiwa yang semakin terdholimi, atau jiwa yang semakin tersiksa.

Karena perceraian adalah sesuatu yang boleh, meski hal itu dibenci Allah. Dan mungkin setan akan berteriak kegirangan saat ada talak tertunaikan. Ah perceraian, sesuatu yang candanya pun bisa menjadi nyata. Maka wahai para suami, berhati-hatilah menata emosi, jangan sampai emosi sesaat menjadikan kata yang dibenci itu keluar dari mulutmu.

Dan untuk para istri termasuk saya, janganlah suka menyulut pertengkaran dengan suami. Sering kali mengalah itu bukan menjadi kalah, tapi mengalah itu adalah kemenangan melawan hawa nafsu.

Bisa jadi, botol dan tutupnya sudah tidak seukuran lagi, tak bisa lagi bersama saling melengkapi.

#30HariMemetikHikmah #TantanganMenulisIPMalang #RumbelMenulisIPMalang
#IbuProfesionalMalang
#HariKe-26

Kamis, 06 Juni 2019

Lebaran di Desa

Lebaran di desa suami meninggalkan kesan tersendiri bagiku. Beberapa adat kebiasaan di sini begitu berbeda dengan apa yang ada di kota tempatku dibesarkan. Salah satu hal paling unik adalah tata cara sholat iednya.

Sholat ied di sini diadakan di musholla masing-masing blok. Jadi hanya beberapa baris saja. Bapak-bapak di dalam musholla tidak sampai penuh, kemudian ibu-ibu di luar musholla hanya hingga sekitar 3-4 shof saja.

Sembari pergi sholat, tiap rumah membawa makanan untuk dimakan bersama dengan saling bertukar, intinya tidak boleh makan milik sendiri. Rata-rata orang desa sini selalu menyembelih 1 ayam untuk dimasak opor lengkap dengan lontong dan ketupatnya. Makanan diletakkan di 1 baki besar berisi 1 mangkuk penuh isi opor dengan beberapa bungkus lontong. Nanti akan dimakan setelah sholat ied dengan melingkar sekitar 3-5 orang tiap nampan, makan bersama.

Sedangkan hal unik yang paling unik menurutku adalah saat khutbah sholat. Jika di kotaku khutbah disampaikan dengan bahasa Indonesia, lengkap dengan Khotib yang biasanya ustadz yang cukup dikenal, maka di sini khutbah disampaikan dengan bahasa Arab! Entahlah jamaah lain paham semua atau tidak dengan apa yang 'dibaca' oleh sang khatib yang juga merangkap sebagai imam.

'Kerpekan' yang dibaca pun kuamati sepertinya sama dari tahun ke tahun. Uniknya lagi, sang khatib membacakan dengan nada penuturan bukan seperti ceramah, tapi seperti sedang tilawah. Saya sempat protes tentang hal ini ke suami, lalu kita dapat apa kalau khutbahnya semacam itu? Kata suami, ya yang mondok kan tau artinya. Okelah, tapi menurut tetap saja isinya seperti tidak merasuk ke dalam hati. Hal ini pun juga terjadi saat sholat Jumat, entahlah. Yang tak paham bahasa Arab akan mendapat 'siraman rohani' dari mana?

Namun bagaimanapun inilah adat kebiasaan yang unik yang tetap harus dilestarikan, mungkin begitulah di desa ini turun temurun dilakukan. Walau barangkali jika ada perbaikan terhadap isi khutbah, maka pasti akan lebih bermakna.

#30HariMemetikHikmah #TantanganMenulisIPMalang #RumbelMenulisIPMalang
#IbuProfesionalMalang
#HariKe-25

Rabu, 05 Juni 2019

Cinta yang Tulus

Di dunia ini sejatinya manusia sedang sendiri. Manusia berbuat sesuai keinginan sendiri tanpa tendensi orang lain. Setiap manusia pun akan mempertanggungjawabkan semua perbuatannya sendiri, tanpa orang lain yang ikut menanggung. Sendiri, benar-benar sendiri.

Namun di dunia ini, aku memiliki dua cinta, ya hanya ada dua cinta. Dua cinta yang teramat tulus. Selain mereka, entah siapa lagi yang mencintaiku dengan tulus. Mungkin Bapak atau Eyang yang sudah pergi mendahuluiku.

Namun kini, hanya tersisa dua cinta, cinta suami dan ibuku saja. Tiada lagi yang lain. Entahlah, kurasa di dunia ini tidak ada lagi cinta yang tulus selain cinta mereka. Aku sendiri, benar-benar sendiri.

Suatu saat saat aku merasa sendiri, aku pernah bertanya kepada suami, "Apakah kamu menyayangiku?"

"Pertanyaan macam apakah itu?"

Apa masih kurang bukti cinta dan sayangnya selama sewindu ini? Ah ya, tepat 9 Juni esok kami tepat 8 tahun masehi membina rumah tangga.

Begitupun ibuku, beliau pernah berkata, "Tiada cinta yang lebih tulus selain cinta Ibu."

Ah, Ibu memang teramat mencintaiku hingga dulu sebelum aku menikah nampak sekali beda perlakuan Ibu. Ibu pernah berkata, ibu begitu karena akulah satu-satunya anaknya yang sudah yatim sedari bayi. Sedang kedua saudaraku masih memiliki ayah yang tulus mencintai mereka.

Taukah? Tidak ada cinta ayah tiri yang melebihi cinta bapak kandung yang dari tulang sulbinya aku bermula. Tidak, tidak akan pernah sama. Meski aku bersyukur memiliki ayah tiri yang kutau beliau mencoba menyayangiku. Walau tak sama, tak akan pernah sama.

Maka cintaku, aku juga mencintaimu. Suamiku, ibuku, hanya kalianlah yang tulus mencintaiku dan yang kucintai.

#30HariMemetikHikmah #TantanganMenulisIPMalang #RumbelMenulisIPMalang
#IbuProfesionalMalang
#HariKe-24

Selasa, 04 Juni 2019

Ramadhan Terakhir

Inikah tarawih terakhirku? Semalam sempat terbesit dalam hati, bilakah tarawih ini adalah tarawih terakhirku? Air mataku pun menitik, lalu menderas. Sudah beribadah apa saja di bulan Ramadhan ini? Apa tetap sama dengan sebelum-sebelumnya? Kusia-siakan Ramadhan hingga dia pergi tanpa menoleh lagi.

Palsu! Aku selalu berjanji palsu dari tahun ke tahun. Janjiku ingin lebih optimal beribadah tahun ini. Nyata-nyatanya, sama saja. Aku lagi-lagi menyia-nyiakan.

Tarawih kemarin akankah menjadi tarawih terakhirku di tahun ini, atau menjadi tarawih terakhir dalam hidupku? Ah, sampaikah aku ke tahun berikutnya? Seolah-olah diri segera beranjak dari dunia ini. Lagi-lagi air mata itu mengaliri pipi. Telah kusia-siakan Ramadhan kali ini.

Ramadhan, sudikah kiranya dirimu berjumpa lagi denganku? Aku sudah merindumu, meski baru beberapa jam lalu kita berpisah.

Ramadhan, akankah tahun ini kamu akan membekas di tiap nafasku? Akankah kebiasaan-kebiasaan yang kulakukan bersamamu akan tetap kubawa saat tak lagi bersamamu?

Ramadhan, kaulah bulan penuh cinta. Darimu aku belajar, bahwa setiap menit begitu berarti untuk mengeja tiap kalamullah. Tapi sudahkah aku mengoptimalkan cinta ini bersamamu?

Ramadhan, apakah aku mendapat malam istimewamu itu? Sebuah malammu yang terlalu istimewa, tapi lagi-lagi aku barangkali telah mengabaikannya.

Ramadhan, ah janganlah pergi. Aku masih ingin kita bersama lagi. Peluklah erat kalbuku agar selalu tertaut padamu.

Ah Ramadhan. Mudahkanlah hamba ya Rabb agar bisa bertemu dengan Ramadhan-Mu, lagi, lagi, dan lagi. Diri ini sudah ingin mencuci dosa lagi, karena nyatanya dosaku masih menggunung.

#30HariMemetikHikmah #TantanganMenulisIPMalang #RumbelMenulisIPMalang
#IbuProfesionalMalang
#HariKe-23

Jumat, 31 Mei 2019

Sahabat Lama

Setiap orang pasti punya sahabat masa lalu, baik yang masih sambung ataupun yang sudah putus hubungan. Bisa jadi karena lost contact atau karena kesibukan masing-masing yang tak lagi sama.

Perubahan itu niscaya adanya. Meski dulu selalu bersama, ketika sudah sibuk dengan aktivitas masing-masing, maka kebersamaan tersebut akan terkikis dengan seiring waktu.

Begitu juga dengan persahabatan kami, G2C. Sebuah nama yang kami pilih untuk menamai diri kami sendiri. Kami dulu dipertemukan saat naik kelas 3 SMP. Kelas yang berbeda dengan saat kelas 2 membuat kami 'mencari' lagi teman baru untuk diajak sebangku. Biasanya yang dulu saat kelas 2 sekadar kenal bisa jadi teman jalan.

Sedang kami berempat dulu entah kenapa di hari pertama masuk kelas tiba-tiba kami akrab begitu saja. Hingga setahun berjalan pun kami kompak kesana kemari berempat. Kami bercerita banyak hal, dari a hingga kembali ke a lagi. Kami pun bisa dibilang sangat usil satu sama lain saking kompaknya. Mulai dari menyembunyikan sepatu, hingga meninggalkan sendiri salah seorang teman saat pulang sekolah.

Pulang sekolah pun kami seringnya selalu bersama, naik angkot berempat, meski terkadang juga ada yang dijemput orang tuanya. Namun kami berempat selalu berusaha kompak.

Menginjak SMA, kami mulai terpisah sekolah meski ada 2 teman yang diterima di sekolah yang sama. Lama kelamaan, setelah kuliah kemudian pasca kuliah, intensitas bertemu pun semakin berkurang. Perubahan itu niscaya adanya.

Meski setidaknya setahun 2-3 kali kami masih menyempatkan bertemu, tapi memang kesibukan masing-masing membuat kami juga lebih mengakrabi teman-teman baru, yang barangkali kini lebih intensif berinteraksi.

Ah, sahabatku, semoga di tiap-tiap doa kita tetap saling menyebut satu per satu nama kita.

#30HariMemetikHikmah #TantanganMenulisIPMalang #RumbelMenulisIPMalang
#IbuProfesionalMalang
#HariKe-22

Semangat Berbagi

Ada seorang teman halaqah lama yang sebenarnya sudah lama juga tidak berjumpa. Beliau dan suaminya memiliki usaha berjualan bakso di rumahnya. Punya teman seperti ini merupakan rejeki luar biasa, jadi tidak ragu lagi akan kehalalannya.

Selain insyaallah halal, baksonya pun enak, terkenal di kalangan mahasiswa UB, karena memang lokasi berjualannya di daerah kerto dekat kampus UB.

Dulu saat saya masih tinggal di kerto tentu suka beli baksonya, sayangnya sering tidak boleh membayar 😔. Semangat berbagi beliau luar buasa. Namun itulah yang bikin kadang saya sendiri jadi sungkan kalau beli di sana, begitu pun suami.

Paling kangen sama pangsit mie nya yang menurut saya paling pas rasanya. Perpaduan antara ayam suwir dan kerupuk pangsitnya pas sekali dengan mienya. Sayang sekarang sudah ganti dengan mie ayam yang gak kalah enaknya.

Setelah sekian lama tidak beli di sana, akhirnya kemarin sore saya beli melalui grabfood karena akan ada buka bersama di rumah dengan teman main SMP. Berharap jika order melalui grab tidak terdeteksi, eh ternyata penjual tetap saja tau siapa pembelinya. Driver datang dengan menenteng 2 kresek, 1 kresek berisi pesanan saya, 1 kresek lagi berisi bonus dari penjual, begitu kata drivernya.

"Loh, kok banyak sekali, Pak, bonusnya?"
"Katanya mbak temennya yang jual, ya?"
"Loh, memang penjual juga bisa tahu, ya, Pak, siapa pembelinya?"
"Iya, Mbak."

Masyaallah ... Beliau tetap saja seperti itu, semangat berbaginya luar biasa. Beliau tidak takut rugi ketika berbagi. Belum lagi ketika kami dulu sering diundang ke rumah beliau dan makan bakso gratis sepuasnya. Semoga selalu diberikan keberkahan untuk usahanya, ya, Mbak!

#30HariMemetikHikmah #TantanganMenulisIPMalang #RumbelMenulisIPMalang
#IbuProfesionalMalang
#HariKe-21

Minggu, 26 Mei 2019

Pepaya yang Dicuri

Beberapa hari yang lalu lagi-lagi hati ini sempat diliputi rasa kecewa saat melihat tiga pepaya yang mulai membesar di pohonnya tiba-tiba berkurang satu. Pagi hari masih tiga, sore sudah tinggal dua. Berarti pencuri melakukan aksi saat siang hari.

Memang hanya pepaya, buah murah yang kau bisa membelinya hanya dengan kurang dari 10 ribu rupiah. Namun jika kau menanam dan merawatnya sepenuh jiwa, rasanya ada kekecewaan yang entah. Ketika tinggal memetik hasilnya, lalu dengan mudah dia yang entah siapa mengambilnya tanpa permisi.

Pohon pepaya itu kami tanam sekitar tahun lalu. Sebuah pohon pepaya california yang suami beli benihnya di toko pertanian. Banyak benih ditebar, namun ternyata hanya dia satu yang tumbuh besar.

Dia tumbuh di lahan sempit samping rumah, pohonnya memang masih rendah, sehingga buahnya mudah dijamah. Ini adalah kedua kalinya bunga-bunganya akhirnya menjadi buah. Namun aku lagi-lagi dibuat kecewa, oleh tangan jahil yang tak mau berpikir: halalkah buah yang diambil dengan cara seperti itu?

Tahun lalu pertama kali dia berbuah, hanya satu bakal buah yang tumbuh membesar. Sembari menunggu benar-benar matang, kubiarkan dia bersemburu di dahan. Ah, tapi pagi-pagi pepaya itu hilang. Aku kecewa, menanti sesuatu berlama-lama lalu ditebas begitu saja.

Lagi-lagi aku ditegur untuk bersedekah lagi.

Rasulullah SAW dalam hadis yang diriwayatkan sahabat Jabir mengatakan:
“Nabi SAW bersabda: ‘Tak ada seorang muslim yang menanam pohon, kecuali sesuatu yang dimakan dari tanaman itu akan menjadi sedekah baginya, dan yang dicuri akan menjadi sedekah. Apa saja yang dimakan oleh binatang buas darinya, maka sesuatu (yang dimakan) itu akan menjadi sedekah baginya. Apapun yang dimakan oleh burung darinya, maka hal itu akan menjadi sedekah baginya. Tak ada seorangpun yang mengurangi, kecuali itu akan menjadi sedekah baginya’.” (HR. Muslim)

#30HariMemetikHikmah #TantanganMenulisIPMalang #RumbelMenulisIPMalang
#IbuProfesionalMalang
#HariKe-20

Kau Tetap Lelaki yang Sama

Aku menangis dalam diam
Dalam jiwa yang mengharu
Dalam hati yang terluka

Aku sama sekali salah
Bahwa diammu bukan berarti kau tak peduli
Kau tetap lelaki yang sama
Lelaki hangat yang mencintaiku karena-Nya

Kupikir kau berubah
Karena tak ada pelukan yang menghangat

Bertahun-tahun kita bersama
Dan aku tetap saja salah duga
Kau tetap lelaki yang sama

Kau lahir di keluarga yang menjadikan pelukan bukanlah kewajiban
Lalu aku menuntutmu memelukku tiap waktu
Aku salah

Dirimu tetap menjadi lelaki yang kukenal dulu
Yang perhatiannya adalah dengan membantu pekerjaan rumah tangga
Bukan dengan bunga atau kejutan mesra

Lalu kecupmu yang begitu dalam dan seperti tak mau melepas menyadarkanku
Kau tetap lelakiku yang sama

25 Mei 2019

Seringkali dalam rumah tangga akan ada perasaan bahwa pasangan mulai berubah, rasa cinta itu mulai pudar oleh usia. Sebagai seorang istri juga sudah seharusnya menghangatkan lagi pucuk-pucuk cinta itu dalam rumah tangga. Menghidupkan lagi kehangatan seperti awal dipersatukan.

Kita tidak bisa mengubah orang menjadi seperti apa yang kita mau. Yang kita bisa adalah mengubah diri sendiri untuk bisa sesuai dengan orang lain.

Saya yang sudah menjalani 8 tahun pernikahan hingga sekarang masih sering terjadi miss komunikasi. Setiap hari kami masih harus terus belajar dan belajar mengenal pasangan.

Kadang pertengkaran kecil atau tangis juga diperlukan untuk semakin mendekatkan diri dengan pasangan. Semakin saling mencintai kekurangan dan kelebihan.

Ah istri, berubahnya suami bukan selalu berarti tak cinta lagi. Karena setiap orang memiliki bahasa cinta yang berbeda-beda.

#ntms
#30HariMemetikHikmah #TantanganMenulisIPMalang #RumbelMenulisIPMalang
#IbuProfesionalMalang
#HariKe-19

Jumat, 24 Mei 2019

Hati Suhita: Mikul Dhuwur, Mendem Jero

Mikul dhuwur mendem jero, meninggikan kebaikan keluarga dan menutupi kekurangannya. Hal ini bisa dimaknai juga meninggikan derajat keluarga. Sebuah pepatah yang menjadi pedoman wanita Jawa dalam berkeluarga.



Begitu pula yang dilakukan Alina Suhita, tokoh utama dalam novel Hati Suhita ini. Menikah dalam perjodohan serta penolakan suami atas dirinya tak lantas membuatnya menyerah dalam bersabar. Suhita digambarkan sebagai sosok wanita pesantren penghafal Alquran yang selalu berusaha menampakkan kebaikan suaminya di hadapan semua orang meski sebenarnya yang terjadi sesungguhnya hanyalah sandiwara. Suaminya begitu dingin kepadanya.

Namun dengan kesabaran Alina Suhita dia pun mampu bertahan hingga 7 bulan pernikahan tanpa ada kehangatan. Pernikahan yang didambakan banyak orang, disangkakan banyak orang begitu harmonis nyatanya benar-benar dingin dan hambar. Ditambah dengan adanya orang ketiga di masa lalu yang semakin membuat hati Suhita hancur menghadapi kenyataan. Namun ia bisa bertahan.

Membaca novel ini membuat saya kembali merenungi serta mensyukuri pernikahan yang telah memasuki usia kesembilan tahun. Bersyukur memiliki suami yang hangat dan penuh cinta. Saya pun belajar keteguhan hati Suhita untuk selalu mikul dhuwur mendem jero, suatu hal yang saya mesti terus belajar dan belajar.

Hunna libasulakum wa'antum libasu lahum. Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka. (Potongan surat Al-Baqarah: 187)

#30HariMemetikHikmah #TantanganMenulisIPMalang #RumbelMenulisIPMalang
#IbuProfesionalMalang
#HariKe-18

Buka Bersama

Mungkin saya termasuk orang yang kuper, selama Ramadhan sudah berjalan 2/3 nya saya sama sekali tidak buka bersama di luar, baik dengan komunitas ataupun keluarga. Namun memang itulah pilihan kami selama beberapa tahun belakangan ini, selama Ramadhan kami memang lebih suka buka di rumah, baik masak sendiri atau beli jadi.

Rasanya memang beda sekali dengan dulu awal-awal menikah yang jadwal bukbernya beruntunan, atau mungkin sesekali buka di luar. Tidak, seperti tahun kemarin, tahun ini pun kami sama sekali memilih tidak buka di luar. Meski tahun ini suami sempat sekali buka di luar dengan teman kerjanya dulu.

Suami selalu mengingatkan jika buka di luar khawatir sholat keteteran, apalagi di tempat makan dengan fasilitas ibadah terbatas atau jauh dari masjid. Jika memilih sholat dulu maka biasanya pesanan akan datang terlambat ditambah belum tentu dapat tempat. Namun jika pesan dulu maka sholatnya terlambat.

Semua itu pilihan, yang penting selama bukber tidak melalaikan dari ibadah wajib maka tidak masalah. Apalagi untuk laki-laki dengan kewajibannya jamaah di masjid, jangan sampailah terlewat, bulan puasa juga, sayang banget melewatkan hidangan pahala yang berlipat ganda.

Jadi kalaupun terpaksa bukber, maka lebih baik di rumah teman atau di tempat makan yang dekat masjid.

Selamat mengoptimalkan 10 hari terakhir Ramadhan 🌸.

#30HariMemetikHikmah #TantanganMenulisIPMalang #RumbelMenulisIPMalang
#IbuProfesionalMalang
#HariKe-17

Kamis, 23 Mei 2019

Bumi Cinta : Ujian Wanita

Dari Usamah Bin Zaid, Rasulullah Saw bersabda, “Aku tidak meninggalkan satu fitnah pun yang lebih membahayakan para lelaki selain fitnah wanita.” (HR. Bukhari: 5096 dan  Muslim: 2740)

Fitnah wanita adalah fitnah terbesar bagi kaum adam. Fitnah wanita ini pula yang diangkat dalam novel Kang Abik yang berjudul Bumi Cinta ini.

Membaca novel ini membuat saya mengetahui beberapa hal baru. Salah satu hal tersebut adalah fakta bahwa Rusia merupakan negara free sex dengan tingkat pengakses pornografi nomer 1 di dunia. Atas sebab itu juga Kang Abik menjadikan setting novelnya kali ini di Rusia.



Sebenarnya ini adalah novel lama, tapi saya baru membacanya sekitar 2 bulan yang lalu. Sebuah novel pemberian teman yang sedang bersih-bersih barang, hehe.

Novel ini menurut saya adalah pengejawantahan kisah Nabi Yusuf a.s dalam mempertahankan izzahnya dari godaan wanita. Tokoh utama dalam novel ini yaitu Ayyas dikisahkan sedang melakukan penelitian sejarah Islam di Rusia. Namun ternyata dia melalui ujian yang sangat berat di negara free sex tersebut.

Ujian tersebut dimulai ketika dia tidak mendapatkan tempat tinggal kecuali sebuah kamar apartemen dengan 2 tetangga kamar perempuan Rusia dengan kehidupan yang bebas. Salah satu dari perempuan tersebut adalah agen mossad, dia sangat membenci Ayyas yang seorang muslim, bahkan ingin menjebak Ayyas agar tertangkap sebagai seorang teroris.

Tak cukup itu, perempuan itu juga menggoda Ayyas dengan berpakaian sangat minim dan masuk kamar Ayyas tanpa ijin. Ayyas dengan keteguhan imannya seperti halnya Nabi Yusuf a.s justru berusaha agar perempuan itu pingsan kemudian disingkirkan.

Di akhir kisah ternyata ada kenyataan lain yang membuat perempuan agen mossad itu berubah 180 derajat. Perubahan itu pun mengancam jiwanya.

Banyak hikmah yang bisa saya ambil dari novel ini, bahwa hidayah itu hanya milik Allah. Tak akan ada yang pernah tau akhir hidup seseorang. Bisa jadi orang yang dulunya atheis dan berkubang dosa akhir hidupnya justru dalam nikmat iman dan Islam.

#30HariMemetikHikmah #TantanganMenulisIPMalang #RumbelMenulisIPMalang
#IbuProfesionalMalang
#HariKe-16

Rabu, 22 Mei 2019

Ngompol di Masjid

Ada yang pernah mengalami nggak anak ngompol di masjid? Hu, pasti panik sekali ya. Belum lagi harus ngepel dan nyuci karpetnya. Kalau ditanya balik apakah saya pernah mengalami? Jawabnya iya, tapi pas anak sedang tidak dengan saya.

Weekend kemarin tiga krucil ikut eyang -seperti biasanya. Entahlah apa penyebabnya si Fara yang sudah lulus toilet training kurang lebih satu tahun tiba-tiba mengompol di masjid saat diajak eyang tarawih. Padahal menurut eyang sebelum berangkat sudah dipipiskan dulu. Namun saya tidak tahu si anak baru mengkonsumsi apa saja, bisa jadi makanan atau minuman yang membuat sering berkemih seperti semangka atau teh.

Mengajak anak balita ke masjid memang membawa resiko tersendiri. Kalau saya pribadi jadi nggak khusyuk, apalagi kalau si anak keliling masjid, jadi kepikiran mereka kemana dan apakah ada kejadian tidak diinginkan terjadi?

Lalu daripada tidak khusyuk, maka saya memutuskan tidak sholat tarawih dulu di masjid mengajak anak. Tahun lalu saya sempat mencoba di awal Ramadhan mengajak mereka tarawih, eh mereka heboh berdua wira-wiri dari shof saya ke shof ayah. Ayahnya sujud mereka 'beraksi' menunggangi. Karena itulah saya memilih tarawih di rumah. Bukankah wanita juga lebih utama sholat di rumahnya daripada di masjid?

Suami sendiri setelah kejadian itu tidak mengijinkan saya tarawih di masjid jika anak-anak tidak sedang di eyangnya. Saya pun yakin semua ada masanya, seperti halnya Jundi juga akhirnya ada masanya dia bisa diajak ke masjid setelah bertahun-tahun saya harus menahan diri di rumah. Oke, semua ada masanya. Yang salah adalah yang tidak sholat.

#30HariMemetikHikmah #TantanganMenulisIPMalang #RumbelMenulisIPMalang
#IbuProfesionalMalang
#HariKe-15

Minggu, 19 Mei 2019

Berhias untuk Suami

Sebenarnya dulu sudah pernah menulis tentang ini disini. Sekarang ingin menulis lagi gara-gara tadi pagi membaca sebuah postingan seorang suami yang curhat mengeluhkan kondisi istrinya yang tidak mau dandan padahal sudah diminta baik-baik oleh suaminya agar mau dandan dan merawat tubuh. Sayang istrinya tidak paham bahwa itu adalah kewajibannya, tetapi istri justru menyalahkan suami tidak mau menerima dia apa adanya.

Hai para istri, suamimu itu makhluk visual, maka manjakanlah matanya sesuai apa yang diinginkannya. Selama itu tidak melanggar syariat, why not? Berdandan untuk suami itu berpahala lho.

Yang perlu menjadi catatan adalah berdandanlah sesuai apa yang suami sukai. Bisa jadi suami A suka rambut panjang, tapi suami B justru suka rambut pendek. Semua harus dikomunikasikan secara produktif. Kalau saya sih biasanya ijin dulu, misal potong rambut boleh nggak? Baju ini bagus nggak? Suami saya sih type yang semua oke aja, hanya terkadang dikomentari. Komentar itulah yang saya simpan dan menjadi panduan saya dalam menghias diri.

Jadi para istri, selama ini sudah dandan sesuai yang suami maui belum?



Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sebaik-baik isteri adalah yang menyenangkan jika engkau melihatnya, taat jika engkau menyuruhnya, serta menjaga dirinya dan hartamu di saat engkau pergi.”
Hadits shahih: Diriwayatkan oleh ath-Thabrani, dari ‘Abdullah bin Salam. Lihat Shahiihul Jaami’ (no. 3299).

#30HariMemetikHikmah #TantanganMenulisIPMalang #RumbelMenulisIPMalang
#IbuProfesionalMalang
#HariKe-14

Sabtu, 18 Mei 2019

Ketika Suami Sakit

Ah, rasanya melihat belahan jiwa tergolek lemah meringkuk dalam selimut itu mengiris hati, nggak tega. Benarkah tubuh yang kokoh itu kini tak memiliki dayanya lagi untuk menjadi tamengku?

Manusia sesungguhnya tak pernah memiliki tubuhnya sendiri. Semua hanya titipan dari Sang Pencipta. Jika Pemiliknya ingin membuat tubuh itu sakit, maka apa daya diri selain ikhlas menerima agar menjadi sarana penggugur dosa?

Seharian tadi dengan tubuh demam dan meringkuk lemah, suami tetap bersikeras puasa. Sudah kutawarkan untuk membatalkan puasa jika tidak kuat, tapi tetap tidak dia lakukan hingga azan magrib terdengar.

Ah, kekasihku, belahan jiwaku, sigaring nyowoku. Semoga Allah menggugurkan dosa-dosamu melalui sakit ini yang tetap kau jalani dengan ikhlas.

Sesekali kau memintaku untuk memijat atau mengoleskan sesuatu. Lalu kau menolak ketika aku memijat terlalu lama, kasian bunda capek. Dengan sisa energi kau kerjakan shalat dengan tubuh sempoyongan, lalu shalat berikutnya kau kerjakan dengan duduk. Padahal tadi subuh kau masih kuat berjamaah ke masjid, lalu hingga kini kau masih tergeletak lemah.

Ah, cinta. Kita tak pernah memiliki tubuh kita sendiri, tapi kita bisa berusaha menjaganya. Mungkin ini teguran, agar kita bisa menjaga tubuh titipan ini dengan lebih baik lagi.



Barangkali kita bisa mulai sedikit-sedikit merubah pola makan kita? Ah, sepertinya akulah yang mesti belajar memasak lebih sehat tapi tetap enak.

#30HariMemetikHikmah #TantanganMenulisIPMalang #RumbelMenulisIPMalang
#IbuProfesionalMalang
#HariKe-13

Token yang Terblokir

Bagi pengguna internet banking tentu sangat menggantungkan transaksi pada benda kecil satu ini: token. Token digunakan untuk otentikasi bank pada setiap transaksi perbankan. Tanpa token, internet banking hanya bisa digunakan untuk cek saldo dan mutasi tanpa bisa melakukan transaksi.

Ada juga bank yang tidak menggunakan benda bernama token tapi menggunakan media SMS untuk mengirimkan kode otentifikasi. Menurut saya cara ini cukup menguras pulsa, belum lagi jika transaksi gagal.

Namun jika memiliki anak kecil dengan rasa penasaran yang tinggi, maka token harus diamankan agar tidak sampai terblokir. Seperti yang terjadi pada salah satu token saya kemarin.

Tak biasanya anak kembar saya bisa membuka laci tempat token disimpan, jadi saya santai saja ketika melihat dari kejauhan mereka berdua bermain di dekat laci tersebut. Saya pun saat itu sedang sibuk dengan token salah satu bank untuk transfer ke beberapa tujuan.

Saat saya mengembalikan salah satu token ke tempatnya ternyata token yang lain terletak keluar dari dompetnya. Curiga saya cek keduanya, yang satu sudah ter-lock dan satu lagi fail-1, masih aman.



Pengen marah dan pengen nangis, saya sudah teledor mengawasi mereka. Bukan salah mereka bermain dengan rasa ingin tahunya yang tinggi. Selama ini mereka memang begitu penasaran dengan token setiap saya menggunakannya.

Setelah kejadian itu saya menasihati mereka agar tidak bermain dengan benda itu lagi. Semoga saja mereka sudah tidak penasaran lagi, atau mungkin lain kali perlu diajak mencet saat saya menggunakannya agar tidak lagi penasaran.

Hikmahnya, kami diminta sedekah lagi ke bank buat ganti token yang baru 😅.

#30HariMemetikHikmah #TantanganMenulisIPMalang #RumbelMenulisIPMalang
#IbuProfesionalMalang
#HariKe-12

Kamis, 16 Mei 2019

Orang Tua yang Dibanggakan

Dalam benak anak, barangkali orang tuanyalah yang dia banggakan. Tanpa kita sadari, anak akan selalu mengamati apa saja yang orang tua lakukan. Mereka adalah peniru ulung. Maka jangan pernah salahkan mereka ketika mereka menirukan kebiasaan jelek orang tua.

Sekitar dua hari yang lalu benak saya tersentak dengan adanya sebuah pesan di grup wa sekolah dari seorang ibu. Ibu tersebut bercerita, anaknya berkata bahwa ayah Jundi hafizh. Lalu ibu tersebut menambahkan semoga Jundi bisa lebih baik dari ayahnya.

Saya tergelak, dapat darimanakah pernyataan tersebut? Apakah Jundi memang menceritakan dengan bangga bahwa ayahnya seorang hafizh qur'an? Padahal nyatanya ayahnya baru menghafal mungkin total 1-2 juz saja dari Al-Qur'an. Namun mengapa pernyataan itu keluar dari teman sekelas Jundi? Apakah Jundi bercerita dengan dilebih-lebihkan? Karena dia ingin membanggakan orang tuanya.

Lalu saya konfirmasi hal tersebut kepada Jundi, benarkah dia bercerita pada temannya bahwa ayah hafizh? Tidak! Begitu jawabnya. Lalu mengapa muncul pernyataan di atas?

Saya pun mengambil kesimpulan sendiri, barangkali saat menghafal bersama surat tertentu Jundi bercerita pada temannya bahwa ayahnya menghafal surat ini. Lalu temannya saya menangkap bahwa ayah Jundi seorang penghafal Alquran. Ah, semoga benar menjadi doa yang diijabah.



Lalu, sudahkah kita sebagai orang tua menjadi kebanggaan anak?

#30HariMemetikHikmah #TantanganMenulisIPMalang #RumbelMenulisIPMalang
#IbuProfesionalMalang
#HariKe-11

Rabu, 15 Mei 2019

Adab Menuntut Ilmu

Pelajaran mengenai adab sebelum ilmu begitu melekat di ingatan saya, meski saat ini banyak sekali orang abai akan adab dibanding ilmu. Banyak orang pintar tapi tidak memiliki sopan santun terhadap guru. Pelajaran adab seperti hilang dari banyak diri karena budaya yang memudar.

Adab menuntut ilmu tidak hanya bagaimana penuntut ilmu menghormati guru, tapi juga hal-hal lain yang berhubungan dengannya seperti bagaimana memperlakukan kitab atau buku yang memuat ilmu.

Beberapa hari yang lalu, saya pun merasakan ujian mengenai hal ini, dan hampir saja saya menodai adab yang saya yakini sebagai adab yang terpuji.

Saat membuat gambar tulisan di sebuah aplikasi, saya tak sadar sudah menggunakan template berbayar, tapi saya baru menyadarinya saat mau save hasil editing. Hampir saja saya lalai dengan tetap save gambar tersebut dengan cara lain yang penting tetap mendapat gambar tersebut. Detik kemudian saya tersadar, untuk apa saya melakukan hal tersebut? Lalu saya urungkan dan mencari design lain yang gratis.

Seringkali saya pribadi tanpa sadar lalai telah menabrak adab-adab dalam menuntut ilmu, termasuk menghargai hak cipta orang lain. Salah satu cara menghargai diri sendiri adalah dengan menghargai karya orang lain. Membeli barang bajakan adalah jalan yang menghilangkan keberkahan. Meski kenyataannya saking menjamurnya bajakan sampai tidak bisa dibedakan mana yang asli dan mana yang bajakan.

#30HariMemetikHikmah #TantanganMenulisIPMalang #RumbelMenulisIPMalang
#IbuProfesionalMalang
#HariKe-10

Selasa, 14 Mei 2019

Kerang Pedas

Ah, yang serba pedas memang selalu lebih menggugah selera makan, terutama bagi penggemar pedas, termasuk aku. Namun jangan sampai karena menuruti selera jadi kebablasan, seperti yang kulakukan kemarin lusa.



Ada kerang yang siap olah di kulkas membuatku berimajinasi mengolahnya menjadi sambal kerang yang pedas menggugah selera makan. Aku pun meracik bumbu dengan menambahkan sekitar 10 biji cabe yang cukup gemuk ke dalamnya. Pikirku yang memasak dalam kondisi masih berpuasa pasti enak kerang pedas seperti ini. Ada sisa sambal lalapan pun ikut aku masukkan ke dalam masakan.

Tibalah saat berbuka kucoba mengincipi 1 biji kerang, langsung terasa pedasnya. Mantap ini, batinku. Sepiring nasi pun kuhabiskan lahap ditemani kerang pedas bikinanku.

Giliran suami makan, "Bunda, pedes banget ini kerangnya."

"Iya kah? Maaf ya, Bunda pikir biar terasa pedesnya."

"Lain kali kalau untuk buka jangan bikin yang terlalu pedas seperti ini, perutnya kaget."

Lalu keesokannya ucapan suami terbukti, kami berdua sama-sama diare gara-gara kerang pedas buatanku. Hiks, aku menyesal.

Dari kejadian ini aku mengambil hikmah bahwa menahan keinginan untuk pedas berlebihan ternyata juga termasuk di dalam ujian menahan hawa nafsu. Karena ingin pedas berlebihan juga termasuk di dalam hawa nafsu yang seringkali manusia penggemar pedas sepertiku tak bisa mengendalikan diri.

Karena pedas berlebihan juga tidak baik untuk kesehatan.

 #30HariMemetikHikmah #TantanganMenulisIPMalang #RumbelMenulisIPMalang
#IbuProfesionalMalang
#HariKe-9