Kamis, 19 Februari 2015

Aku menikah (terlalu) muda (?)

Aku menikah sekitar 3,5 tahun yang lalu, tepatnya 9 Juni 2011. Waktu itu usiaku belum genap 21 tahun. Di antara teman-teman 1 angkatan aku yang paling duluan menikah. Satu kelas di perkuliahan, satu kelas SMA, satu genk SMP (untuk kabar 1 kelas aku tidak tahu siapa yang lebih dulu menikah :D), hanya di antara teman satu kelas SD aku yang kedua menikah (runner up :D). Eits, tapi menikah itu bukan masalah cepet-cepetan ya, menikah bukan lomba lari. Hanya saja di usiaku aku termasuk cepat bertemu dengan pujaan hati :).

Masih teringat sewaktu aku akan menikah beberapa teman dekatku terlampau kaget akan keputusanku menerima pinangan laki-laki. Bahkan hingga ibu sahabat dekatku juga menyatakan kekagetannya. Agie sudah siap? Agie beneran yakin? Agie, kamu beneran kan mau nikah, gak bohongan kan? :D. Barangkali usiaku di mata mereka masih terlampau muda :).

Menikah di usia 20 tahun dan alhamdulillah di usia 3 bulan pernikahan kami mendapat kabar gembira dari sebuah test pack yang menunjukkan 2 garis yang artinya aku positif hamil. Semua pernikahan pasti menunggu saat-saat yang paling menggembirakan itu bukan? Kehamilan kujalani sambil menempuh perkuliahan yang belum tunai. Aku menikah saat aku masih menempuh pendidikan di akhir semester 6. Dan aku mulai hamil di semester 7. Tentu semua tahu, semester-semester ini semua mahasiswa mulai di'pusing'kan dengan skripsi yang memang menjadi syarat kelulusan dari bangku kuliah.

Aku kuliah di jurusan kimia UIN Malang dengan beban SKS 160 untuk mendapatkan kelulusan. Tentu ini perbedaan yang cukup signifikan jika dibandingan dengan di UB yang hanya 144 SKS (karena teman satu genk SMP semua kuliah di UB). Oke, ini membuat perasaanku sedikit sedih, di saat teman-temanku sudah ujian skripsi dan kompre aku masih ada perkuliahan 16 SKS :D. Tapi alhamdulillah aku ada dukungan penuh dari suami yang selalu siaga untuk kehamilan dan untuk segera menyelesaikan kuliahku.

Walaupun aku sudah menikah aku bertekad harus tetap bisa lulus tepat waktu sesuai janjiku sebelum menikah. Dan akhirnya aku pun lulus 4 tahun 2 bulan (lebih sedikit dari target ^^). Tapi itu tidak masalah, karena masih bisa wisuda bareng-bareng teman-teman 1 angkatan :).

Kehidupan setelah lulus dan sudah memiliki anak banyak kujalani di rumah saja kecuali jika ada agenda di luar. Aku memilih membantu usaha suami di rumah dan menganggurkan ijazah sarjanaku (yeah, hidup itu pilihan bukan? :)). Di awal-awal menjadi ibu aku banyak ikut komunitas milis ataupun fb yang berhubungan dengan ASI dan kesehatan bayi. Menjadi ibu rumah tangga full membuatku harus banyak belajar agar tidak kalah dengan  ibu-ibu bekerja yang barangkali lebih mudah untuk mencari informasi.

Namun, terkadang saat teman-temanku mengajakku keluar atau kegiatan lain tentu aku sudah tidak lagi sebebas dulu. Aku menyadari, kehidupanku dengan mereka yang masih single berbeda. Walau mungkin seusiaku masih banyak yang bersenang-senang, jalan-jalan menghabiskan uang gaji di masa lajang. Terkadang aku ingin seperti mereka, tapi di sisi lain aku bersyukur dengan kehidupanku sekarang.

Aku harus selalu bersyukur, di usia yang masih 24 tahun ini aku sudah memiliki pendamping hidup yang baik menurut Allah untukku. Aku sudah memiliki seorang Jundi yang sudah Allah titipkan melalui rahimku. Semua dari hidupku sekarang aku sangat mensyukurinya. Biarlah jika dikata aku menikah (terlalu) muda, inilah pilihan hidupku.

Bismillah untuk selalu melakukan yang terbaik :)

Malang, 19 februari 2015
14.45

Sabtu, 14 Februari 2015

RESEP PUDING SUTRA

Awalnya saya gak tahu apa itu puding sutra. Tapi gara-gara pesen kue buat acara ada pilihan puding sutra saya jadi penasaran dan cari tahu apa itu puding sutra, bedanya apa dengan puding biasanya?

Ternyata puding sutra atau sering disebut juga puding tahu (karena warnanya putih bersih seperti tahu) ini tidak memakai gula sama sekali dalam pembuatannya. Pemanis diganti dengan menggunakan susu kental manis (yang memang sudah mengandung gula). Memang sih, kalo dihitung-hitung jadi lebih mahal, tapi sangat sebanding dengan rasanya yang lembut dan bikin nagih.

Tekstur puding sutra ini lembut banget, sesuai dengan namanya. Kalo soal rasa bisa dibilang full of milk, karena memang bahan dasarnya milk :). Langsung aja ke resepnya ya...

Bahan :
1 kaleng susu kental manis putih
4 kaleng air (ditakar dengan kaleng susu) resep asli yang saya dapat 5 kaleng, tapi saya kurangi jadi 5 karena takut tidak manis dan saya tidak suka menggunakan fla
1 bungkus agar-agar

Cara membuat :
- Semua bahan dicampur dalam wadah panci besar, kemudian direbus hingga mendidih
- Cetak sesuai selera dan tunggu hingga mengeras

Satu resep jadi 1 loyang puding yang bulat plus 1 wadah makan tupp*rware, jadi banyak kan? Tapi jangan khawatir, bakal cepet kok habisnya. Jundi saja habis 1 wadah makan sendiri, itu pun masih nambah dari yang dicetak di loyang. 

Untuk penyajian bisa dimakan puding saja, tapi bisa juga disajikan dengan cocktail buah, fla, atau yang lain. Kalau saya kemarin pas ada semangka jadi dimakan pakai semangka deh...

Selamat mencoba dan rasakan nikmatnya, hehehe...

Malang, 14 Februari 2015
8.53 
Bunda Jundi