Jumat, 09 Oktober 2015

[Tentang Kehamilan] Persalinan

Persalinan janin dari alam rahim ke alam dunia. Proses ini tentu sebuah proses yang sangat ditunggu-tunggu oleh semua ibu hamil. Ibu hamil itu termasuk aku, aku yang saat ini sedang berbadan tiga di usia kehamilan 36 minggu. Aku tak menyebut berbadan dua, karena dari hasil pemeriksaan insyaallah anak yang kukandung kembar 2.

Terdengar menggembirakan ketika akan ada 2 bayi yg akan lahir dari 1 rahim dalam sekali waktu. Tapi ingat juga kawan, kembar itu resikonya lebih tinggi daripada hamil tunggal. Aku paham itu, sangat paham. Namun aku yakin Allah memberikan sesuatu sesuai kemampuan hambaNya. Dengan kehamilan ini aku sedang berusaha mengoptimalkan diri untuk berdo'a dan memberdayakan diri agar amanah ini bisa aku emban seoptimal yang aku mampu.
 
Kehamilan ini adalah kehamilan yang berbeda dengan kehamilan pertamaku dulu yang cenderung tidak banyak belajar karena sibuk skripsi (alesan). Alhamdulillah aku dipertemukan dengan orang-orang yang menguasai ilmu gentle birth, atau belum bisa dibilang menguasai tapi sedang mempelajari, setidaknya tidak ada kata berhenti untuk belajar bukan? Beberapa teman baik itu teman SMA atau teman kuliah, atau teman-teman dumai yang belum pernah ketemu menarikku untuk semakin belajar tentang gentle birth. Dan akhirnya aku pun dipertemukan dengan bidan Rina, praktisi gentle birth yang ada di Malang.
 
Tak banyak yang tahu tentang apa itu gentle birth, begitupun aku, dulu. Sekarang juga ga paham banget sih, tapi sedikit-sedikit tahu lah. Intinya sih kalo dari asal kata ya melahirkan dengan lembut. Eh begimane coba melahirkan dengan lembut? Padahal kan dimana mana yang namanya melahirkan itu ya sakit, jerit-jerit, dan lain-lain yang image nya udah kagak enak aja.
 
Nah, di bidan Rina ada yang namanya kelas prenatal, di kelas ini jadi bisa sedikit banyak belajar juga tentang gentle birth. Bagaimana mengelola rasa sakit, merelaksasi diri, hingga menyambut bayi dengan penuh senyum. Intinya gak ada yang namanya trauma, baik itu untuk Ibu dan bayi. Dan satu hal yang penting bahwa melahirkan itu salah satu ladang jihad buat wanita, lalu mengapa kita tidak menyambutnya dengan senyum? Kalo kata bidan rina 'ntar malaikatnya bingung nyatet amalannya, ini ikhlas gak njalaninnya?' karena kembali lagi semua ibadah ujungnya satu, ikhlas karena Allah.
 
Kelas ini menurutku wajib diikuti oleh semua bumil dan suami atau pendamping persalinan (misal Ibu/calon nenek). Kalo aku sih ikutnya dengan suami, karena bagaimanapun ada apa-apa yang duluan ya suami, bukan Ibu, walau ntar mungkin juga seperti pas melahirkan Jundi sih, didampingi suami dan Ibu.
 
Pertanyaan polosku saat ikut kelas adalah....gimana rasanya kontraksi? Walau pernah melahirkan sekarang aku seperti lupa bagaimana rasanya, mungkin karena dulu aku tidak menikmatinya ya, lebih fokus pada rasa sakitnya sampek lupa semua. Jawab bidan Rina ya kontraksi memang tidak bisa digambarkan bagaimana rasanya, tapi nanti juga pasti tahu sendiri gimana rasanya :). Aku menunggu rasa itu datang pada waktunya, setidaknya 1 pekan lagi saat usia kandunganku sudah 37weeks. Ah bagaimana nikmatnya kadang aku tak sabar menunggu, tapi biarlah waktu yang menjawab agar bayiku sudah cukup matang segalanya dan hadir dalam kondisi sehat semua, aamiin.
 
Ingatanku jadi melayang ke kisah persalinanku sekitar 3 tahun lalu, aku berusaha mengingat-ingat bagaimana dulu proses aku melahirkan Jundi. Waktu itu 20 Juni 2012, 4 hari sebelum HPL (HPL tanggal 24 Juni 2015). Malamnya aku sudah sounding terus ke perut kalo Bunda pengen cepet ketemu, memeluk, dll. Susah tidur juga sih pas itu,udah kayak berat banget di tubuh. Jadi sambil nunggu merep mulut terus sounding walau suami udah jauh ke alam mimpi. Paginya aku jalan-jalan pagi dengan suami seperti rutinitas beberapa bulan terakhir (walau tidak setiap hari tapi intensitasnya cukup sering). Alhamdulillah punya suami yang kerjanya di rumah aja, jadi bisa all out all time, hehe. 

Usai jalan-jalan (yang cukup jauh) kami pulang dan bersih diri. Lha kok jam 8an aku ke kamar mandi buat buang air kecil nemu bercak darah di celana dalam. Ok, it's time. Capcus aku dan suami didampingi Ibu juga pergi ke bidan desa deket rumah Ibuku (beberapa hari terakhir ngungsi ke rumah Ibuku karena memang rencana bersalin di dekat rumah Ibu). Bidannya ternyata lagi dinas di puskesmas so rencana melahirkan langsung pindah ke puskesmas dekat rumah Ibuku -yang beberapa kali aku juga ANC disana-.

Puskesmas DAU, disanalah akhirnya aku melahirkan pertama kali. Waktu itu sekitar jam 08.30 karena sudah ada bercak aku di VT dan ternyata masih bukaan 1. Sama bidan yang periksa disuruh pulang dulu nunggu kontraksi lebih intens dan bukaan nambah. Di rumah menunggu sampai kontraksi terasa lebih sering, hingga sekitar jam 11.30 timbul bercak darah lagi dan kami kembali ke puskesmas. Bukaan 3. Kata bidannya kalo udah bukaan 3 tiap nambah bukaan berlangsung 1 jam, jadi perkiraan baru lahir sekitar habis isya'. Jujur saja waktu itu rasanya udah gak berhenti-berhenti rasa sakitnya. Semua posisi kucoba, dari tidur miring sampai nungging, dan nungging ternyata posisi paling pw. Bolak balik juga ke kamar mandi, rasanya kayak orang pingin BAB mulu tapi gak keluar sama sekali. Hingga sekitar pukul 2 aku merasa ingin BAB saat aku nungging, dan ternyata malah ketuban pecah padahal beberapa menit sebelumnya dicek masih bukaan 5. Setelah ketuban pecah diperiksa lagi ternyata sudah bukaan sempurna, alhamdullillah.

Perjuangan itu baru dimulai disini, saat tenaga rasanya sudah mulai habis karena sebelumnya makan sudah tidak selera. Dan baru aku tahu setelah aku mengikuti kelas prenatal bahwa saat menjelang melahirkan pencernaan menurun kerjanya hingga 70%. Oleh karena itu makanan yang dianjurkan dikonsumsi untuk menambah energy adalah yang manis-manis seperti kurma, coklat, dan kawan-kawannya. Jujur saja aku sudah tidak terlalu ingat bagaimana detail persalinan pertamaku dulu (inilah efek nulisnya baru sekarang setelah 3 tahun berlalu). Yang kuingat aku harus beberapa kali berusaha mengejan sambil dipandu oleh bidan dan para mahasiswa kebidanan yang sedang praktek di sana. Hingga pada satu ejanan kepala Jundi sudah keluar separo aku hampir menyerah, “Bentar,aku gak kuat”. Lalu asupan teh manis hangat terus diberikan. Dan aku boleh mulai mengejan hanya ketika kontraksi terasa. Entah berapa kali aku mengejan hingga akhirnya hangat terasa melewati vagina. Jundi telah lahir,seketika kudengar tangisnya, lalu plasenta keluar dan aku berurusan dengan jahit menjahit. Yap, kelahiran Jundi menyisakan 9 jahitan, selain karena cukup besar (3,2kg) juga karena posisiku meneran sambil memegang kedua paha,bokong diangkat bisa membuat robekan. Rasa sakitnya tak terasa, dibius, tau-tau sudah selesai. Bidan praktek yang membantu seketika langsung bertanya, 'mau hamil lagi mbak?' Dengan tegas kujawab 'ya' rasa sakit sudah hilang dan terlupa, berganti bahagia dengan hadirnya tangis baru di keluarga kecilku.  

Finally finish. Ditulis sejak hamil kedua menginjak sekitar 36w dan baru selesai setelah kedua bayi berusia 14day. InsyaAllah segera ditulis juga tentang delivery twin baby.

Malang,6 november 2015
Dari seorang ibu yang selalu ingin belajar memberikan yang terbaik untuk buah hatinya.

Senin, 15 Juni 2015

[Tentang Kehamilan] Kembar

Kembar. Sebuah kata yang selalu istimewa, bahkan sering jadi pusat perhatian. Barangkali memang selalu terlihat unik ketika dua orang jalan berdua dan keduanya mirip, apalagi kalau kembar identik.
Dulu. Dulu sekali ketika aku masih SD (barangkali) sering melihat takjub orang kembar. Jika tak sengaja bertemu orang kembar, aku seringkali mengamati takjub mereka berdua seolah kembar benar-benar sesuatu yang luar biasa. Ah, jika diingat-ingat barangkali aku saat itu begitu memalukan.
Sejak kecil aku tak pernah terpikir punya anak kembar, sampai saat ini pun. Hingga di suatu siang beberapa pekan lalu jantungku dibuat berdebar melihat layar USG. Janin yang aku kandung kembar.
Tepatnya sekitar 5 pekan lalu saat kandunganku berusia 15 pekan (sekarang sudah 20 pekan). Saat itu aku ANC di bidan rina (semoga nanti bisa melahirkan ditolong beliau, aamiin). Seperti 2 bulan sebelumnya begitu berbaring di ranjang periksa perutku di USG. USG kali ini bidan rina langsung sedikit 'heboh' menjelaskan gambar USG di monitor. Suamiku yang mengurusi si sulung di luar tempat periksa juga langsung dipanggil. Janinnya kembar.
Dua bulan sebelumnya memang belum ketahuan kalau janinku kembar karena aku 'lupa' nggak nahan pipis, padahal beberapa waktu sebelumnya baru saja baca kalau USG hamil muda harus dalam keadaan kantong kemih penuh.
15 juni 2015 (tidak rampung)
Add caption

Kini tak terasa usia kandunganku sudah memasuki minggu ke 36, semakin dekat dengan waktu persalinan. Ada hal-hal yang kurasakan berbeda dengan kehamilanku yang pertama dulu. Entah. Barangkali dulu di kehamilan pertama aku terlalu sibuk dengan skripsiku sehingga hari-hari terakhir kehamilan aku jalani biasa saja tanpa ada rasa beban.
Kecapekan. Saat ini aku merasa sangat sering kecapekan dan terasa berat. Entah karena aku memboyong 2 janin di rahimku, atau aku tidak terlalu sibuk sehingga setiap detik begitu terasa? Setiap hari aku selalu menanti agar mereka segera terlahir ke dunia, mengalami persalinan dari alam rahim ke alam dunia. Tak bosan rasanya tiap hari membaca tentang perkembangan janin pada usia yang aku jalani sekarang. Sayang belum ada buku khusus yang membahas secara menyeluruh tentang kehamilan kembar.
Kehamilan kembar tentu berbeda dengan tunggal, yang jika kau baca di artikel-artikel kehamilan ini lebih beresiko. Tapi dengan sugesti yang positif dan keyakinan penuh pada Allah segala resiko itu berubah menjadi sebuah ladang jihad yang tidak semua wanita berkesempatan. "Bunda beruntung punya ladang pahala yang banyak" begitu suamiku selalu berujar.
Si kembar sudah seharusnya bersyukur memiliki seorang ayah yang siaga dan penyabar. Di usia ini aku banyak melewatkan beberapa pekerjaan rumah, walau aku masih bisa tapi tidak seoptimal biasanya, maka suamilah penggantinya. Kadang aku iri, sejak kehamilan yang memaksaku untuk tidak sering menggendong Jundi membuat Jundi lebih suka dengan ayahnya, bangun tidur yang dicari ayahnya, karena ayah bisa langsung memeluk dan menggendongnya sedang aku tidak. Tapi aku yakin semua ada masanya, dulu saat masih menyusu hanya aku yang dicarinya jika bangun tidur, dan barangkali ini juga sebuah proses penyesuaian diri. Aku tahu Jundi pun menyayangi calon adiknya, sering dia mencium perutku dan membelai-belai adiknya. Oke,ini hanya masalah proses persalinan dr seorang anak tunggal menjadi seorang kakak. Waktu juga yang akan mendidiknya untuk menjadi kakak yang bisa menjadi tauladan adik-adiknya.
Di usia ini posisi janinku yang pertama sudah memasuki panggul,siap untuk segera keluar bersalin menuju alam dunia. Dan janin kedua untuk pemeriksaan terakhir dalam posisi melintang, posisi ini masih bisa berubah ubah. Dan aku yakin aku pasti bisa melahirkan mereka dengan cara normal, aku yakin Allah akan mengabulkan do'aku agar bisa melahirkan keduanya dengan jalan normal. Bismillahi tawakaltu 'alallah.
Malang, 2 Oktober 2015 sambil menunggu mas Jundi pulang dari sekolahnya :)
Dari seorang Ibu yang ingin selalu belajar memperbaiki diri.

Rabu, 11 Maret 2015

[Tentang Kehamilan] Testpack

Bismillah...
Assalamualaikum....
Kali ini ingin sedikit berbagi tentang kehamilan. Barangkali akan sedikit memberi pencerahan untuk yang sedang merencanakan kehamilan, sedang mengalami kehamilan pertama, atau sedang harap-harap cemas karena sudah mulai terlambat datang bulan. Dan pastinya ilmu buat yang belum nikah biar nanti lebih siap menghadapi kehamilan :).

Testpack. Testpack memang alat pertama untuk mengetahui kehamilan. Cara kerja testpack adalah mendeteksi adanya hormon HCG yang dihasilkan oleh ibu hamil, dan hormon ini ada bersama urin. Testpack pun bermacam-macam, dari yang tingkat sensitivitas tinggi sampai yang rendah (sesuai dengan harga, dari yang cuma 2.500 sampai yang 25.000).

Sensitivitas testpack ini berbeda-beda, sehingga tiap testpack ada petunjuk tersendiri dalam kemasan. Kalau mau hasilnya akurat ya harus manut petunjuknya. Misal untuk testpack murah test harus dilakukan di pagi hari dan urin yang ditest adalah urin pertama hari itu, syaratnya lagi minimal telat haid 3 hari karena kadar hormon sudah mulai tinggi. Beda lagi dengan testpack mahal, test siang-siang juga oke, dan gak perlu nunggu telat 3 hari. Kalau gak salah ingat bahkan beberapa hari setelah berhubungan sudah bisa digunakan (jarang banget pakai yang mahal euy). Tapi kembali lagi menurut saya pribadi entah itu murah atau mahal demi keakuratan lebih baik test pagi hari dan nunggu telat dulu :).

Entahlah, kadang saya pribadi jadi rada senewen dengan testpack mahal, tiap kali beli yang mahal mesti pas negatif, dan pake yang murah pas positif :D. Kalau diinget-inget emang sudah agak lupa sih udah pake testpack berapa kali. Kayaknya baru 4 kali deh, dan sayang seribu sayang yg 2 kali (mahal) negatif dan 2 kali (murah) positif, huahaha.

Jadi teringat juga karena masih polosnya aku pas bulan pertama nikah aku telat datang bulan dan si calon nenek pas itu sudah berharap banget aku hamil. Berangkatlah kami sore hari ke RS terdekat mau test kehamilan (padahal testnya palingan sama aja pake test pack,kenapa gak dites sendiri coba? :')) dan hasilnya negatif saudara-saudara :D dan itu tidak masuk hitungan yang kumaksud di atas yaps :).

Kehamilan pertama dulu aku juga sudah agak lupa hari ke berapa aku baru test dan tau hamil, sepertinya sekitar telat 1 pekan, dan waktu itu saya habis ke dokter karena diare parah. Dan kehamilan kedua ini ajaibnya aku baru telat 2 hari dan terlihat sudah samar-samar garis positif itu. Padahal aku dan suami belum merencanakan kehamilan ini, tapi dari awal memang hanya KB alami, jadi normal kan kalau aku hamil lagi? :D. Kehamilan kali ini aku khawatir karena batuk-batuk terus dan lagi-lagi diare sampai ambeyen kambuh (mulai punya ambeyen pas hamil pertama), entah feeling darimana, baru telat 2 hari udah minta beli testpack ke suami. Dan walau baru telat 2 hari dan pake testpack murah alhamdulillah sudah terlihat samar-samar garis kedua pertanda positif :).

Aku bahagia, Jundi bahagia, Ayah bahagia, semua bahagia. Kami bahagia dan menikmati penantian 9 bulan ini. Umur janinku sekarang sudah 7w3d dihitung dari HPHT (Hari Pertama Haid Terakhir), masih ada sekitar 32w lagi perjalanan ini. Bismillah semoga kehamilan ini diberi kelancaran seperti kehamilan pertama. Bismillahi tawakaltu 'alallah...

Semoga bermanfaat
Wassalamu'alaykum

Dirampungkan 18 maret 2015
BundaJundi :)

Kamis, 19 Februari 2015

Aku menikah (terlalu) muda (?)

Aku menikah sekitar 3,5 tahun yang lalu, tepatnya 9 Juni 2011. Waktu itu usiaku belum genap 21 tahun. Di antara teman-teman 1 angkatan aku yang paling duluan menikah. Satu kelas di perkuliahan, satu kelas SMA, satu genk SMP (untuk kabar 1 kelas aku tidak tahu siapa yang lebih dulu menikah :D), hanya di antara teman satu kelas SD aku yang kedua menikah (runner up :D). Eits, tapi menikah itu bukan masalah cepet-cepetan ya, menikah bukan lomba lari. Hanya saja di usiaku aku termasuk cepat bertemu dengan pujaan hati :).

Masih teringat sewaktu aku akan menikah beberapa teman dekatku terlampau kaget akan keputusanku menerima pinangan laki-laki. Bahkan hingga ibu sahabat dekatku juga menyatakan kekagetannya. Agie sudah siap? Agie beneran yakin? Agie, kamu beneran kan mau nikah, gak bohongan kan? :D. Barangkali usiaku di mata mereka masih terlampau muda :).

Menikah di usia 20 tahun dan alhamdulillah di usia 3 bulan pernikahan kami mendapat kabar gembira dari sebuah test pack yang menunjukkan 2 garis yang artinya aku positif hamil. Semua pernikahan pasti menunggu saat-saat yang paling menggembirakan itu bukan? Kehamilan kujalani sambil menempuh perkuliahan yang belum tunai. Aku menikah saat aku masih menempuh pendidikan di akhir semester 6. Dan aku mulai hamil di semester 7. Tentu semua tahu, semester-semester ini semua mahasiswa mulai di'pusing'kan dengan skripsi yang memang menjadi syarat kelulusan dari bangku kuliah.

Aku kuliah di jurusan kimia UIN Malang dengan beban SKS 160 untuk mendapatkan kelulusan. Tentu ini perbedaan yang cukup signifikan jika dibandingan dengan di UB yang hanya 144 SKS (karena teman satu genk SMP semua kuliah di UB). Oke, ini membuat perasaanku sedikit sedih, di saat teman-temanku sudah ujian skripsi dan kompre aku masih ada perkuliahan 16 SKS :D. Tapi alhamdulillah aku ada dukungan penuh dari suami yang selalu siaga untuk kehamilan dan untuk segera menyelesaikan kuliahku.

Walaupun aku sudah menikah aku bertekad harus tetap bisa lulus tepat waktu sesuai janjiku sebelum menikah. Dan akhirnya aku pun lulus 4 tahun 2 bulan (lebih sedikit dari target ^^). Tapi itu tidak masalah, karena masih bisa wisuda bareng-bareng teman-teman 1 angkatan :).

Kehidupan setelah lulus dan sudah memiliki anak banyak kujalani di rumah saja kecuali jika ada agenda di luar. Aku memilih membantu usaha suami di rumah dan menganggurkan ijazah sarjanaku (yeah, hidup itu pilihan bukan? :)). Di awal-awal menjadi ibu aku banyak ikut komunitas milis ataupun fb yang berhubungan dengan ASI dan kesehatan bayi. Menjadi ibu rumah tangga full membuatku harus banyak belajar agar tidak kalah dengan  ibu-ibu bekerja yang barangkali lebih mudah untuk mencari informasi.

Namun, terkadang saat teman-temanku mengajakku keluar atau kegiatan lain tentu aku sudah tidak lagi sebebas dulu. Aku menyadari, kehidupanku dengan mereka yang masih single berbeda. Walau mungkin seusiaku masih banyak yang bersenang-senang, jalan-jalan menghabiskan uang gaji di masa lajang. Terkadang aku ingin seperti mereka, tapi di sisi lain aku bersyukur dengan kehidupanku sekarang.

Aku harus selalu bersyukur, di usia yang masih 24 tahun ini aku sudah memiliki pendamping hidup yang baik menurut Allah untukku. Aku sudah memiliki seorang Jundi yang sudah Allah titipkan melalui rahimku. Semua dari hidupku sekarang aku sangat mensyukurinya. Biarlah jika dikata aku menikah (terlalu) muda, inilah pilihan hidupku.

Bismillah untuk selalu melakukan yang terbaik :)

Malang, 19 februari 2015
14.45

Sabtu, 14 Februari 2015

RESEP PUDING SUTRA

Awalnya saya gak tahu apa itu puding sutra. Tapi gara-gara pesen kue buat acara ada pilihan puding sutra saya jadi penasaran dan cari tahu apa itu puding sutra, bedanya apa dengan puding biasanya?

Ternyata puding sutra atau sering disebut juga puding tahu (karena warnanya putih bersih seperti tahu) ini tidak memakai gula sama sekali dalam pembuatannya. Pemanis diganti dengan menggunakan susu kental manis (yang memang sudah mengandung gula). Memang sih, kalo dihitung-hitung jadi lebih mahal, tapi sangat sebanding dengan rasanya yang lembut dan bikin nagih.

Tekstur puding sutra ini lembut banget, sesuai dengan namanya. Kalo soal rasa bisa dibilang full of milk, karena memang bahan dasarnya milk :). Langsung aja ke resepnya ya...

Bahan :
1 kaleng susu kental manis putih
4 kaleng air (ditakar dengan kaleng susu) resep asli yang saya dapat 5 kaleng, tapi saya kurangi jadi 5 karena takut tidak manis dan saya tidak suka menggunakan fla
1 bungkus agar-agar

Cara membuat :
- Semua bahan dicampur dalam wadah panci besar, kemudian direbus hingga mendidih
- Cetak sesuai selera dan tunggu hingga mengeras

Satu resep jadi 1 loyang puding yang bulat plus 1 wadah makan tupp*rware, jadi banyak kan? Tapi jangan khawatir, bakal cepet kok habisnya. Jundi saja habis 1 wadah makan sendiri, itu pun masih nambah dari yang dicetak di loyang. 

Untuk penyajian bisa dimakan puding saja, tapi bisa juga disajikan dengan cocktail buah, fla, atau yang lain. Kalau saya kemarin pas ada semangka jadi dimakan pakai semangka deh...

Selamat mencoba dan rasakan nikmatnya, hehehe...

Malang, 14 Februari 2015
8.53 
Bunda Jundi

Kamis, 29 Januari 2015

BROWNIES BETON a.k.a BIJI NANGKA

Assalamualaikum... bismillah hari ini mau bagi resep brownies dari beton atau yang gak tau, beton itu bijinya buah nangka.

Berawal kemarin lihat nangka di penjual sayur akhirnya tertarik beli, trus tiba-tiba inget suami pernah bilang kalo bijinya bisa direbus dan dimakan. Waktu aku kecil pernah sih cuman memorynya gak terlalu kuat jadinya rada lupa kayak gimana. Alhasil kemarin sempet browsing resep kue pake beton tapi ternyata gak nemu, akhirnya modifikasi resep sendiri deh dari resep brownies singkong, hehehe. Hasilnya, alhamdulillah baru jadi Jundi udah habis 2 potong, berikut resepnya.

Bahan :
25 gr white cooking chocolate (menyesuaikan stok di dapur, karena sepertinya kalo mau coklat lebih enak pake dcc, dark cooking chocolate)
25 gr mentega
1 btr telur
40 gr gula pasir
60 gr beton
20 gr tepung terigu
5 gr coklat bubuk

Cara membuat :
1. Rebus beton hingga empuk. Lalu haluskan dengan ulekan.
2. Lelehkan mentega dan wcc dengan cara ditim.
2. Kocok telur dan gula pasir hingga mengembang. Masukkan semua bahan dan aduk dengan kecepatan rendah.
3. Kukus 20 menit.

Resep ini cuma untuk 10 potong kecil brownies, karena keluarga kecil jadi saya selalu memasak dalam porsi kecil.

Jika ingin kue yang lebih spons bisa ditambahkan baking powder secukupnya ke dalam adonan. Hasil kue saya bergelombang karena mungkin mulai mengkukus saat uap belum banyak di dalam dandang, hehehe. Tak apalah yang penting enak. Untuk rasa, beton yang gak halus jadi berasa seperti kacang, jadi seperti brownies kacang, hehehe. Selamat mencoba, semoga bermanfaat :)

Wassalamu'alaykum. ^_^