Selasa, 06 Januari 2015

PUDING ALPUKAT SUSU COKLAT

Awalnya gak mikir pengen dijadikan puding sih, karena biasanya kalo beli alpukat cuma dikerok dimaem biasa aja, paling-paling dikasih gula,sirup,or madu. Tapi berhubung ada 1 alpukat kelamaan nangkring di kulkas, kepikiran diolah jadi puding deh. Tadi sempet browsing beberapa resep, tapi malah gak ada yang klik. Alhamdulillah malah 'nyasar' di fb yang bagi resep puding alpukat. Step paling penting malah didapet dari komen salah satu likers page tersebut. Lucu juga sih, isi komennya kurang lebih begini, "min, udah coba bikin belum? Aku pernah coba kalo alpukatnya ikut direbus jadinya pahit gak bisa dimakan". Lalu menyusul komen-komen lain dari yang punya pengalaman yang sama. Alhamdulillah, padahal di beberapa resep gak ada yang bahas tentang point tersebut. Tapi saya sendiri gak pernah coba kalo direbus sih, jadi gak tau. Mungkin kalo yg ikut direbus itu pake api kecil kali ya.
Jadi, akhirnya saya bikin resep ala saya sendiri menyesuaikan bahan yang ada di dapur :).

Berikut resep simplenya :
Bahan :
1 bks bubuk agar-agar/jelly (kali ini saya gunakan jellygar)
1/2 buah alpukat kerok hancurkan (bisa juga diblender halus, karena edisi blender rusak jadi saya hancurkan manual)
1 bks SKM coklat
3,5 gelas air
1 gelas gula pasir

Cara membuat :
- campur gula 1/2gelas, bubuk agar-agar 1/2 bungkus,air 2 gelas,dan SKM, rebus hingga mendidih lalu cetak dicetakan puding
- sambil menunggu lapisan pertama agak dingin campur gula 1/2 gelas,bubuk agar-agar 1/2 bungkus,air 1,5 gelas, rebus hingga mendidih. Kemudian ketika uap habis masukkan alpukat, aduk rata lalu tuang di cetakan sedikit-sedikit dan pelan-pelan agar lapisan pertama tidak rusak.(punya saya sendiri rusak,hehehe)
- dinginkan hingga mengeras, keluarkan dari cetakan. Dan puding siap disantap...

Sangat mudah bukan? Semoga bisa bermanfaat, bisa menjadi alternatif menikmati alpukat :)

Bunda Jundi
27 januari 2015
Udah lama banget jadi separo tulisan, cuma baru sekarang kelar,hehehe

Sabtu, 27 Desember 2014

Lirik Lagu : Cinta by Vina Panduwinata

Ah, tiba-tiba saja pengen lirik lagu ini. Keinget beberapa bulan yang lalu ke nikahan temen ada Hedi Yunus jadi bintang tamu bawain lagu ini. Waktu itu suami sempet cerita, dulu pas jaman dia SMA dia ngefans banget sama Hedi Yunus, hihihi. Barangkali ini lagu memang cocok buat orang habis akd nikah ya. Love you my Hubby.

Cinta by Vina Panduwinata

Bergetar hatiku 
Saat kuberkenalan dengannya 
Kudengar dia
Menyebutkan nama dirinya
 

Sejak kubertemu
Ku telah jatuh hati padanya 
Di dalam hati 
Telah menjelma cinta
Dan bawalah daku selalu
 

Dalam mimpimu 
Di langkahmu serta hidupmu 
Genggamlah daku kini juga nanti
Harapan di hatiku 
Bawalah diriku slamanya

Rabu, 24 Desember 2014

RESEP NO KNEAD PIZZA TEFLON


Sejujurnya sebelumnya belum pernah kepikiran mau buat pizza karena tau diri gak punya oven buat manggang. Tapi karena ada temen (yang namanya April) beberapa hari terakhir suka ngomongin resep pizza, saya jadi kepo banget pengen eksekusi pizza yang no oven. Awalnya dapat dari si April link tentang masak pizza dengan rice cooker, dan caranya ternyata gampang banget. Tapi karena selasa pengen eksekusi senin malem browsing resep lagi dan malah nemu resep pizza yang dimasak dengan teflon, woh, semakin seneng deh mau eksekusi. Kalau di rice cooker kan mesti ngungsikan nasi di dalamnya dulu (menurutku cukup ribet), tapi kalo di teflon nasinya gak perlu ngungsi, hehe.

Senin malam kemarin awalnya browsing tentang saus pengganti keju mozarella atau quick melt (karena gak punya dan suami gak suka), eh udah dapet tapi malah gak kepake resep sausnya, dan memilih untuk bikin toping kreasi sendiri seperti bikin toping spagetti. Yang kedua browsing lagi resep pizza yang pake trigu protein sedang karena umumnya memang memakai yang protein tinggi. Di resep yang dikasih

Sabtu, 20 Desember 2014

MAAFKAN BUNDA

Untuk buah hatiku, Dzakwan Jundi Firdaus.
Maafkan Bunda belum bisa menjadi Bunda yang baik. Begitu banyak hal sayang dari semua teori-teori tentang mendidik anak yang Bunda pelajari namun Bunda sendiri belum bisa mempraktekkannya padamu. Begitu banyak hal yang luput dari angan-angan Bunda untuk menginginkan yang terbaik untukmu. Barangkali Bunda juga manusia biasa yang tanpa sadar mendidikmu seperti cara-cara orang tua Bunda dulu mendidik Bunda. Walau sering Bunda sadari apa yang Bunda lakukan itu salah nak, tapi Bunda belum bisa mengurungkan emosi sesaat untuk melakukan A atau B.
Sungguh nak, ternyata mendidikmu tidak semudah yang seperti ada di buku Propethic Parenting atau buku lain yang Bunda jadikan rujukan. Sungguh, Bunda sesungguhnya ingin memberikan yang terbaik untukmu. Bunda ingin kamu menjadi anak shalih sejauh jalan yang kelak engkau lalui sendiri. Bunda ingin kelak engkau menjadi penghafal al-Qur’an. Iya sayang 30 juz al-Qur’an. Yah, walau Bunda sendiri belum bisa menjadi contoh yang baik untukmu nak, Bunda baru menghafal 1,5 dari 30. Tapi Bunda harap engkau bisa nak, iya, engkau pasti bisa.

Senin, 15 Desember 2014

KEMANDIRIAN JUNDI



Jundi, putra pertamaku ini kini sudah berumur 2 tahun 6 bulan, 2,5 tahun. Bersamanya aku banyak belajar hal baru. Tentang arti sebuah perhatian, kepercayaan, dan banyak hal lain dalam hidup ini. Orang dewasa harus banyak belajar dari kehidupan seorang balita, keluguan, kepolosan, kejujuran, dan segalanya. Merekalah sesungguhnya fitrah dari kehidupan yang belum terkontaminasi. 

Hari ini aku memperhatikan satu hal dari diri seorang Jundi, kemandirian. Barangkali semua orang tua akan senang dan bangga jika memiliki anak yang mandiri. Tapi aku juga sadar, ada satu sisi dalam sudut hatiku yang sedikit tersentil ketika melihat kemandiriannya. Aku seakan merasa dia akan segera terlepas dariku dan tak lagi membutuhkanku. Bukankah salah satu kebahagiaan adalah merasa dibutuhkan orang lain? Ah, tapi ini beda kawan, dari ketergantungan sepenuhnya saat masih janin, lalu asi ekslusif, mp asi, dan kini setelah kusapih semakin banyak hal kemandirian yang terbentuk dalam dirinya.

Sore tadi aku tersentil saat dia memintaku pulang ke rumah saat dia berada di rumah Eyangnya. “Undi inggal” begitu katanya, maksudnya Jundi ditinggal saja. Ah, padahal waktu itu dia sedang makan. Walau dia makan sendiri tapi setiap makan sendiri aku selalu menemaninya, mengambili bulir-bulir nasi yang terlewat dari mulutnya. Tapi kali ini tidak, dia tak mau kutemani, dia memilih makan di sebelah O (panggilan Jundi untuk Omnya) yang juga sedang makan. Terkadang ada rasa khawatir dia akan merepotkan ketika aku meninggalkan dia di rumah Eyangnya sendiri. Maka sebelum aku meninggalkannya pulang aku mengambil janji lagi dari mulutnya, “Jundi kalo mau pipis bilang O ya, janji?” “Anji” ucap dia sambil mengacungkan 1 jarinya ke atas.

Ah, anakku semakin hari semakin keluar banyak sisi kemandirian dalam dirinya. Pertama kali saat dulu sekitar usia 1 tahun dia sudah suka meminta makan sendiri, walau aku memang tidak menerapkan BLW untuk Jundi. Keinginannya untuk bisa seperti orang dewasa sangat kuat. Maka ketika tiap kali makan aku sudah menyediakan perlak untuknya, agar makanan yang tercecer tidak terlalu membuat lengket lantai dan susah dibersihkan. Tapi bagaimanapun harus aku akui untuk menumbuhkan sisi kemandirian yang satu ini butuh banyak sekali stok sabar, mulai makanan tercecer dimana mana sampai makanan di piring dibuat mainan layaknya pasir dengan sendoknya.

Barangkali sebelum itu sudah banyak sisi-sisi lain dalam kemandiriannya, seperti akhirnya bisa berjalan sendiri atau yang lainnya.

Seketika aku pun teringat pada masa kecilku dulu. Aku dulu mulai usia TK tinggal dengan Eyangku, Ibuku menikah lagi. Walau masih dalam 1 kota tapi aku tinggal dengan Eyang. Ibu bertemu denganku barangkali minimal 1 pekan 1 kali, saat Ibu ada waktu luang dari pekerjaan untuk bisa mengunjungiku. Suatu kali Ibu ada waktu saat aku masih sekolah, waktu itu aku masih kelas 1 SD (seingatku). Karena ingin bertemu maka Ibu mengunjungi sekolahku, namun sayang aku justru tidak mau menemui Ibu lama-lama. Pikirku kala itu, ‘Ah ngapain Ibu ke sekolah, aku kan sudah besar, aku sudah bisa melakukan semua sendiri’. Untuk seorang aku, barangkali kemandirian harus datang jauh lebih cepat daripada semua teman sebayaku. Aku tinggal dengan seorang Eyang tua, maka aku harus bisa mengerjakan semua sendiri. Masih usia SD aku sudah bisa memasak nasi sendiri (waktu itu belum ada rice cooker) dan memasak lauk sendiri. Bahkan untuk mencuci, setrika dan yang lainnya sering kukerjakan sendiri.

Bagaimanapun lewat keadaan seorang bisa menjadi ‘terpaksa’ mandiri. Namun keterpaksaan lambat laun akan menjadi biasa. Dan lagi-lagi aku percaya, di dunia ini tidak ada yang sia-sia, semua pasti ada hikmahnya.

Untuk Jundi, Bunda menyayangimu dan menginginkan semua yang terbaik untukmu. Peluk dan cium hangat untukmu sayang.

Malang, 15 Desember 2014
9.14

Rabu, 10 Desember 2014

RESEP BOLKUS GULMER EGGLESS

Pagi ini alhamdulillah dibuat senyum sumringah melihat hasil bolkus resep yang baru sekali ini dicoba. Dapet resep dari hasil browsing trus klik di resep dapurmasak.com, karena gak perlu pake telur. Biar lebih hemat bahan, dan gak perlu pake mixer :).
Tadi saya buat 2/5 resep untuk 5 cup ukuran sedang. Berikut resepnya saya tulis ulang berikut modifikasi sesuai yang saya buat :

Bahan :
100gr terigu ( saya pakai segitiga)
100gr gula merah
100mL air (resep asli 80 mL)
Baking powder secukupnya (kurleb 1/2 sdt)
Minyak goreng secukupnya (resep asli 40 mL)

Cara membuat :
- Rebus air dan gula merah hingga cair sempurna, saring.
- Campur terigu dan baking powder dalam wadah lain.
- Tuang larutan gula ke dalam campuran terigu sedikit demi sedikit sambil diaduk agar tidak menggumpal.
- Masukkan minyak dan aduk merata.
- Tuang ke dalam cetakan lalu segera kukus di dalam dandang dengan air mendidih dengan uap banyak. Jangan lupa lapisi tutup dengan serbet bersih. Kukus 15-20 menit hingga matang. Uji dengan tes tusuk. Jangan dibuka selama proses mengukus agar bisa mengembang sempurna.

Selamat mencoba, semoga sukses, dan semoga bermanfaat :)

Bunda Jundi, 10 Desember 2014
09.56